Novel Sabda-Sabda Cinta
@Van'feather Adam (Owner Qaf Media Channel)

Sabda 1
Fadila Salsabila Al-Husna
Kulihat Dila berlari-lari kecil di pelataran rumah. Langkahnya ceria, senyumnya mekar. Aku lihat Mamakku begitu menyayangi Dila, meskipun kami tak pernah tahu siapa sebenarnya Dila. Yang Dila tahu, aku adalah Kakaknya. Mamakku adalah Mamakya, dan Bapakku adalah Bapaknya.
Empat tahun lalu, tepatnya 15 januari 2005 aku menemukannya terbuang di kantong plastik di belakang sebuah rumah kosong di Menggala.
Aku mulai saja kisahnya dari awal,...
Seperti layaknya liburan sekolah pada umumnya, pesantrenku juga punya liburan setiap akhir semester, tapi liburan di pesantrenku sedikit berbeda dengan liburan di sekolah umum, kalau di sekolah umum hari minggu adalah hari libur, di pesantrenku hari jum’atlah yang menjadi hari libur, hari minggu tetap belajar. Begitupula dengan liburan semester, biasanya kami sedikit terlambat liburan, di saat sekolah-sekolah umum sudah selesai liburan, bahkan mungkin bisa merayakan tahun baru, kami baru merampungkan ujian. Bahkan malam tahun baru kami hanya bisa bangun malam, diam-diam mengintip dari jendela gedung tingkat 4, ingin melihat meriahnya manusia-manusia bodoh merayakan malam pergantian tahun. Wajar saja jika para santri begitu nelangsa, di sekolah umum hanya ada pelajaran umum saja, tapi di pesantren kami, kami belajar dua pelajaran sekaligus, pelajaran pesantren dan pelajaran umum, jika ditotal keseluruhannya bisa sampai 32 mata pelajaran. Ujiannya pun dua kali, ujian lisan dan ujian tulis. Jadi, wajar jika kami selalu telat liburan, dan liburan kami lebih pendek dari sekolah umum. Paling lama hanya satu minggu.
Pagi itu, karena liburan sudah usai, maka sudah fardhu ain hukumnya untuk kembali ke pesantren, telat satu hari saja, kami harus mengganti dengan satu sak semen, kalau kami telat sepuluh hari, maka kami harus pulang ke pesantren membawa sepuluh sak semen, kalau kami telat 30 hari, kalian tahu berapa sak semen yang harus kami bawa?? 30  sak semen??? Salah! Tapi kami harus membawa pulang semua pakaian kami dari pesantren dan cari sekolah lain!
Pagi itu, aku tak mendapatkan firasat apapun, bahkan aku tak punya gambaran apapun kalau aku akan menemukan bayi mungil yang kini hidup bersama keluargaku. Berat rasanya meninggalkan keluarga untuk kembali belajar ke pesantren di kota Metro. Aku sendiri tinggal di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung, lebih tepatnya di Kecamatan Banjar Agung, Unit 3, desa Moris Jaya. Sedikit gambaran saja tentang tanah kelahiranku. Tulang Bawang adalah tanah yang tercuil dari pojokan surga Aden. Hijau, rindang, penuh dengan kedamaian, penuh dengan keajaiban, dan yang paling penting, jarang disambangi bencana, apalagi banjir, itu kemungkinan hanya terjadi di Jakarta, bukan di Tulang Bawang. Bencana paling besar di kampung kami hanyalah maling, terutama maling karet. Karena Tulang Bawang adalah surganya karet.
Di dalam bus hijau Puspa Jaya, aku duduk di kursi nomor 4 sebelah kiri, aku duduk bersama seorang dokter muda, aku kenal baik dengan dokter itu, karena dulu aku sering mengantar mbahku yang kumat sakit encoknya hampir tiap minggu. Tak jauh dari kursiku, di kursi nomor enam, duduklah seorang gadis cantik bermata jeli, berjilbab besar, membawa tas besar, aku yakin dia kawan satu kelasku di pesantren putri. Hari ini kebetulan dia kembali ke pesantren. Keberuntungan bagiku bisa satu bus dengannya. Tak jemu rasa hati memandang wajahnya. Manis dan cantik, ayu sekali, seperti bidadari yang baru turun dari Surga Na’im.
Aku hanya bisa mengandai-andai, jika aku diberi kesempatan bisa meminang dia. Tapi segera kutepis angan itu, aku sadar siapa aku, aku hanya manusia biasa yang banyak dosa, apalagi masa laluku, aku tinggal di pesantren hanya untuk menebus gelapnya masa laluku.
Setelah puas mengaguminya, aku hanya mampu tersenyum dan memalingkan wajaku ke luar jendela sambil memeluk tas, AC mobil itu begitu dingin, aku penderita Sinusitis paling sensitif dengan suhu AC yang terlalu dingin.
Tiba-tiba mobil mogok di depan rumah kosong di Menggala, tepat di samping jalan raya yang sepi. Kota Metro masih separuh perjalanan lagi. Benar-benar menyebalkan. Aku lihat gadis itu berdiri di samping jalan meunggu bus lain datang. Mungkin dia sudah tidak sabar menunggu bus yang rusak. Tak lama kemudian mobil hijau Puspa Jaya yang lain datang. Gadis itu melambaikan tangannya, bus itupun berhenti di samping bus yang mogok. Kulihat keneknya turun mengecek bus yang mogok. Setelah berbincang-bincang sebentar antara kenek dan sopir, akhirnya sebagian penumpang ikut di bus yang tadi, termasuk gadis itu. Aku lihat dia tertatih mengangkat kopernya yang besar. Aku segera mendekat.
“Afwan ukhti, boleh saya bantu?!” pintaku, dia memandangku sekilas. Kemudian menunduk malu.
“Iya Akh, tolong berat!” jawabnya tersipu, wajahnya memelas manis, menunduk. Aku langsung mengangkat tas besarnya itu ke dalam mobil, entah apa isinya, yang jelas sangat berat.
“Syukran Akh!” dia berterima kasih, masih menunduk, aku hanya mengangguk, dia segera masuk ke dalam mobil itu. Sebenarnya aku ingin ikut juga, tapi setelah melihat semua kursinya penuh, aku urungkan niat dan memutuskan menunggu mobil hijau Puspa Jaya lain datang.
Mobil itu pun segera melaju, gadis itu memandangku dari balik jendela kaca mobil, sampai jauh aku lihat dia masih memandangku. Hatiku berdesir syahdu. Wajah gadis itu benar-benar menyihir akalku. Sejak saat itu wajahnya selalu menyambangi hatiku, apalagi saat aku kesepian.
Hampir dua jam aku duduk di bawah pohon Akasia menunggu mobil yang rusak tadi bersama penumpang yang masih tersisa sepuluh orang, sambil berharap mobil hijau Puspa Jaya lain datang, tapi mobil hijau yang aku harapkan juga tak kunjung datang. Sejenak aku ke belakang rumah kosong yang ada di samping jalan, menuju sumur. Sekedar buang air kecil dan cuci muka.
Setelah membasuh wajahku dengan air dari sumur, aku putuskan untuk kembali menunggu. Tapi kalau setengah jam lagi tidak jadi juga mobilnya, akan aku minta uangku kembali dan cari mobil yang lain, gerutuku dalam hati. Kugendong lagi tas ranselku. Kuelap sepatuku. Dan kukencangkan ikat pinggangku. Menuju bus mogok.
Saat aku melintas dekat dapur rumah kosong tadi, aku mendapati plastik hitam yang bergerak-gerak. Ada dorongan kuat dalam hatiku untuk mendekat dan membukanya. Bungkusan plastik hitam itu sangat mencurigakan, membuatku penasaran untuk mengetahui apa isinya. Setelah dekat, aku mengambil sebatang kayu dan menyogok-nyogok plastik itu. Plastik itu hanya bergerak-gerak seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
Awalnya aku kira kucing nakal yang dibuang pemiliknya. Karena dulu waktu aku masih SMP, aku juga pernah menemukan bungkusan karung di belakang sekolahku, isinya kucing berwarna hitam yang aku yakin dibuang pemiliknya karena si kucing tukang maling ikan asin. Tapi bungkusan plastik ini berbeda, tidak ada suara mengeong seperti kucing, tidak mengembik seperti kambing, juga tidak menggonggong seperti anjing. Tapi bergerak-gerak seperti ada makhluk yang hidup di dalamnya. Aku bimbang, perasaanku mulai panik dan gusar. Jangan-jangan, jangan-jangan, semoga bukan itu! Benakku mulai berkata yang bukan-bukan!
Ingin kutinggalkan saja bungkusan itu, tapi hatiku justru malah bergulat ingin tahu apa isi di dalamnya. Antara ragu untuk membuka atau meninggalkan. Aku mulai bingung. Beberapa saat aku bimbang, tinggalkan atau buka? Kakiku ingin melangkah pergi, tapi tanganku ingin membuka. Setelah berfikir panjang beberapa saat akhirnya kuturuti keinginan tanganku untuk membukanya.
Aku urai tali pembungkus plastik itu perlahan, tiba-tiba bau anyir membuyar dari dalamnya, seperti bau darah, “duk, duk, duk..” jantungku berdentum cepat, aku ber-istighfar, apa ini? Gumamku. Dengan tangan gemetar dan takut kubuka perlahan plastik itu. Dan saat plastik itu terbuka lebar, seperti ada truk bermuatan penuh menabrakku dari belakang, kagetku tidak ketulungan! Isinya adalah bayi, benar-benar bayi yang baru lahir, bahkan ari-arinya belum terpotong, wajah bayi itu hampir biru, mungkin kekurangan udara dan sulit bernafas, untung saja plastik itu ada lubang-lubang kecil seperti bekas sundutan rokok memungkinkan udara untuk bisa masuk walau sedikit. Mungkin lubang-lubang itu sengaja dibuat oleh yang membuangnya. Sekejam apapun orang yang membuang bayi itu pasti ada perasaan kasihan juga. Apalagi kalau ini anaknya atau cucunya. Tapi tetap saja, membuang bayi kecil mungil yang baru lahir itu adalah perbuatan paling durjana yang pernah terjadi di muka bumi. Singa yang buas saja masih punya perasaan dan kasih sayang yang sangat luar biasa terhadap anaknya, bagaimana bisa manusia yang berakal membuang anaknya sendiri!
Kasihan sekali bayi itu. Saat plastik itu kubuka lebar-lebar ia seperti baru saja mendapatkan surga dan seisinya, menghirup nafas sepuasnya. Tangan kecilnya menggenggam erat seperti kedinginan, kupegang tangan dan kaki mungil itu benar-benar dingin dan pucat. Kalau dari semalam bayi ini di sini sudah pasti bayi ini kedinginan. Apalagi tanpa pakaian dan tanpa selimut, hanya dibungkus plastik. Batinku bertakbir. Bayi ini benar-benar luar biasa. Ajaib, Allah benar-benar menakdirkannya untuk tetap hidup.
Dengan cekatan aku keluarkan gunting dari tas ranselku. Aku potong ari-arinya. Kemudian aku tali dengan karet gelang. Tak ada benang, terpaksa dengan karet gelang. Tak terasa air mataku menitis. Aku hanya teringat bait-bait lagu yang ketika aku masih anak-anak dulu sering aku nyanyikan bersama Mamakku, judulnya: Kasih ibu kepada beta. Dalam lagu itu digambarkan betapa mulianya seorang ibu, bagai sang surya menyinari dunia, kasihnya begitu sempurna dan tak mungkin terbalas. Tapi hari ini aku temukan kenyataan yang jauh berbeda, seorang ibu telah berubah menjadi penjahat paling kejam di dunia. Dengan teganya dia membuang bayinya yang baru lahir ini, bahkan masih berlumuran darah dan berbalut tali ari-ari. Dibungkus plastik tanpa pakaian dan tanpa selimut. Sungguh kejam sekali!
Aku segera membawa si bayi ke sumur untuk membersihkan badannya yang masih berlumuran darah yang sudah mengering. Dengan sisa air yang aku pakai untuk mencuci muka tadi aku basuh wajah bayi itu pelan dan lembut dengan sapu tanganku yang aku basahi dengan air. Hatiku, tak tergambarkan betapa masyghulnya hatiku. Alangkah bodohnya orang tua yang membuang bayi secantik ini. Bodoh sekali! Sungguh benar-benar bodoh! Hatiku terus saja mengutuki.
Setelah bersih, kuambil sarung bermotif batik dari tasku, aku bungkus dia dengan kain itu seperti dulu aku diajari Mamak membungkus adikku yang masih kecil. Kemudian aku mengambil sweeterku dan mengenakannya. Kututup kepalaku dengan penutup sweeter itu, kupakai kaca mata agar orang-orang yang bersamaku di bus tadi tak mengenaliku. Kulangkahkan kakiku berjalan meninggalkan tempat itu untuk menyelamatkan sang bayi.
Kupercepat langkahku menjauh dari rombongan mobil tadi, barjalan dengan buru-buru berlawanan arah, tujuanku hanya pulang kembali ke rumah, aku harus membawa bayi itu pulang, aku telah berjanji pada diriku sendiri saat itu untuk merawatnya bahkan akan aku anggap dia seperti adikku sendiri. Aku tak peduli dia anak siapa, walau dia anak haram sekalipun, aku akan tetap membesarkannya. Sejenak aku lihat wajahnya, ada beberapa bintik merah di pipi dan lehernya, mungkin itu bekas gigitan semut. Hatiku semakin tak karuan rasanya, aku kecup keningnya. Hampir setengah kilo aku berjalan baru aku menemukan rumah, aku harus mencari warung untuk membeli susu, aku yakin bayi ini sangat kelaparan. Wajahnya redup, dan bibirnya kering. Kulihat di samping kiri jalan ada warung sembako, aku percepat langkahku menuju warung itu.
“Bu,, tolong buatkan susu, dengan air hangat ya!” pintaku pada ibu yang menjaga warung, dengan wajah yang sedikit panik. Wajar jika aku panik, aku khawatir jika bayi itu akan mati kelaparan. Aku hanya berfikir mungkin dari semalam dia belum mendapatkan haknya sebagai seorang bayi dari ibunya. Dia belum meminum susu yang seharusnya dia dapatkan dari ibunya. Melihatku panik Ibu penjaga toko itu juga ikutan panik, kemudian membuatkan susu. Secepat kilat dia ke belakang, tak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa segelas susu hangat. Aku menyuapi bayi itu dengan sendok, tapi si bayi tidak mau, aku menangis, batinku bergolak, “Minum lah Nak, biar kau sehat” desahku pelan. Bayi itu malah menangis. Aku pun ikut menangis. Sepertinya ibu tadi iba padaku dan bayi yang aku bawa.
“Sini, aku susui anakmu, kebetulan aku juga punya anak bayi!” pinta ibu itu. aku tahu, kalau bayi ini disusui oleh ibu itu maka status bayi ini adalah anak persusuan, dan nantinya kalau anak ini suka atau jatuh cinta dengan anak ibu itu, maka haram bagi keduanya menikah, karena statusnya adalah saudara persusuan. Tapi aku juga tidak mungkin membiarkannya mati. Tanpa berfikir panjang aku serahkan bayi ini pada ibu itu. sejanak dia menyusuinya. Hatiku lega, setidaknya dia sudah mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan. Air mataku menitis.
“Ibunya ke mana?” Tanya si ibu. Aku terdiam. Aku tidak punya jawaban, karena aku memang tidak tahu siapa bayi ini dan siapa orang tuanya. Tapi kalau aku katakan bayi ini adalah bayi temuan, entah akan seperti apa respon si Ibu. Yang aku khawatirkan kalau si Ibu berteriak dan mengundang kepanikan warga, maka warga akan berbondong-bondong mengintrogasiku, atau aku malah dituduh mencuri bayi.
 “Maaf Bu, ibunya meninggal saat melahirkan, dan aku harus pulang kampung untuk membawanya. Aku tak punya siapa-siapa. Jadi aku harus membawanya!” jawabku, sejenak ibu itu memandang wajahku. Dan memperhatikanku dengan seksama.
“Berapa umurmu Nak? Aku lihat kau masih sangat muda, tapi kau sudah punya seorang anak, cantik pula!” tanya Si Ibu, aku terpaksa berbohong untuk menutupi semua.
“Umurku sembilan belas tahun Bu, memang wajahku seperti ini, banyak orang yang tidak percaya kalau aku sudah berumur segitu dan sudah berkeluarga!” jawabku, ibu itu mengangguk. Masih menyusi bayi. Padahal umurku baru menginjak 16 tahun, belum 19 tahun.
“Nama bayi ini siapa? Dia bayi yang cantik, pasti ibunya juga cantik!” kata ibu itu. Aku berfikir sejanak untuk menemukan sebuah nama yang cantik untuk bayi itu.
“Namanya Fadilla Bu, ibunya sangat cantik!” ucapku dengan tetesan air mata. Aku telah berdusta, tapi bagaimana lagi, itu untuk keselamatanku dan bayi itu. Semoga Allah tidak mencatat kebohonganku kali ini sebagai dosa.
“Fadilla, nama yang cantik, kau pasti ayah yang baik!” pujinya untukku. Air mataku menitis lebih deras, aku mengangguk. Batinku benar-benar teraduk-aduk dengan perasaan hambar. Kasihan sekali bayi ini. Aku hanya bisa bertasbih memuji Allah, Maha Baik Allah yang telah mempertemukanku dengan bayi ini. Kalau bukan karena Allah tentu bayi ini akan mati kelaparan atau bahkan lebih kejam lagi mati dimakan anjing liar. Maha suci Allah, bergetar dadaku memuji-Nya.
Setelah bayi itu tersusui dengan kenyang, aku berpamitan pulang. Ibu tadi membawakanku satu botol dot susu. “Nak, selama di jalan, susuilah anakmu dengan susu ini, ini ASI-ku, nanti kalau sudah sampai rumah kau bisa menyusuinya dengan orang lain!” Pasan ibu itu, aku mengangguk. “Terima kasih Bu, assalamualaikum!” ucapku kemudian berjalan menuju jalan raya untuk mencari mobil pulang.
“Waalaikum salam...!” jawab si Ibu, matanya memandangi langkahku yang perlahan menjauh meninggalkan tempat itu bersama sang bayi.
Kulihat lagi wajah bayi itu, mungil dan manis, tertidur lelap, rasa haus dan laparya telah terobati, terlihat nyenyak tidurnya. Kukecup keningnya. Sedihku telah terobati saat melihat wajahnya yang tenang, kalutku telah terkurangi melihat tidurnya yang nyaman. Sekarang yang aku fikirkan hanyalah bagaimana secepatnya aku sampai rumah dan menjelaskan semuanya pada Mamak. Kukecup lagi kening si bayi “Andai kau anakku!” gumamku.
Setengah jam lebih aku berjalan kaki sambil melindungi si bayi dari sengatan matahari, mobil bus warna putih datang, aku melambaikan tanganku, mobil itupun berhenti, aku langsung masuk. Karena mobil bus itu telah penuh dengan penumpang, aku terpaksa berdiri. Seorang ibu setengah baya memandangku, “Sini aku gendongkan anakmu!” kata ibu itu. Aku tersenyum, kamudian aku serahkan bayi itu.
“Anakmu cantik!” ujar ibu itu, aku mengangguk. Kulihat dia begitu nyaman di pelukan siapa saja. Aku yakin dia akan jadi anak yang baik dan tidak menyusahkan orang lain.
Tak lama dari itu bus menepi dan berhenti, ibu tadi turun, aku segera mengambil alih kursinya. Kemudian aku pangku si bayi. Sebelum pergi Ibu tadi tersenyum padaku, aku juga tersenyum untuknya.
Dari kaca jendela aku lihat ibu itu melambaikan tangannya, aku juga melambaikan tanganku untuknya. Kulihat lagi wajah bayi kecil itu, manis dan cantik. Entah siapa ibunya, mungkin ibunya juga cantik. Entah apa alasannya bayi cantik ini dibuang? Aku peluk bayi itu dengan penuh cinta. Entah mengapa aku merasa aku sangat dekat sekali dengan bayi ini. batinku dan batinnya bertemu dalam satu nurani. Naluriku berkata dia bukan orang jauh, tapi seseorang yang sangat dekat denganku.
Aku ambil Qur’an yang ada di tasku, aku bacakan pelan untuk bayi itu. sopir yang mendengarkanku membaca Qur’an langsung mematikan musiknya. Perlahan aku bacakan ayat-ayat Tuhan itu dengan ketulusan cinta. Aku beri dia nama Fadilla Salsabilla Al-husna. Lengkaplah keluargaku, aku Faris Hasan, adikku Farid Husain, dan adik angkatku ini Fadila Salsabila Al-husna.
Aku tak bisa bayangkan bagaimana nanti respon Mamak saat aku bawa bayi ini pulang. Mamak sudah bertahun-tahun ingin punya anak perempuan, tapi Allah belum memberikan karunianya, karena anaknya Mamak hanya dua, aku dan Farid, laki-laki semua. Dulu saat Mamak mengandung Farid, Mamak berharap yang lahir adalah perempuan, tapi ternyata yang lahir bujang, kemudian Mamak hamil lagi yang terakhir, tapi Allah memang belum memberikan karunia-Nya, bayi itu meninggal beberapa saat setelah lahir, Mamak sangat bersedih, karena bayi itu adalah bayi perempuan yang dari dulu Mamak harapkan kelahirannya. Aku masih ingat saat Mamak menggendong bayi yang telah meninggal itu sambil menangis, hatiku tersayat-sayat rasanya kalau ingat itu. Semoga nanti Mamak mau menerima bayi ini seperti anaknya sendiri.
Mobil bus berhenti di pasar Unit 2. Aku langsung turun. Aku lihat jam tanganku, pukul 13:20, waktu duhur telah terlewati, aku segera berjalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat duhur yang tertinggal.
Setelah Sholat aku berdoa sejenak untuk diriku, masa depanku, dan masa depan anak ini. Kemudian aku mencari ojek untuk mengantarku pulang ke rumah.
Sampai rumah Mamak heran kenapa aku balik lagi, membawa bayi pula.
“Kok pulang lagi Le?” tanya Mamak terkejut dengan kepulanganku lagi.
“Aku jelaskan di dalam saja Mak” jawabku. Mamak semakin heran lagi melihat aku membawa bayi yang aku bungkus dengan kain sarung batikku.
“Bayi siapa itu?” tanya Mamak lagi dengan wajah yang sedikit gusar.
“Aku jelaskan di dalam saja Mak” jawabku sambil melepas sepatu, Mamak mengangguk. Langsung kutarik tangan Mamak masuk kedalam rumah. Mamak menurut, pasti Mamak faham dengan maksudku.
 Di dalam kamar aku rebahkan si bayi di atas kasur, kubuka kain sarung yang aku gunakan membungkus bayi tadi, “Mak, bayi ini aku temukan di kantong plastik di belakang rumah kosong, di Menggala!” jelasku, Mamak terbelalak mendengar kataku.
“Lha anaknya siapa.....?” tanya Mamak panik. Aku hanya menggeleng kepala.
“Itulah alasannya mengapa aku bawa pulang, aku juga tidak tahu anak siapa ini, aku temukan dia di belakang rumah kosong terbungkus plastik” jawabku. Mamak membisu sejenak, entah panik atau takut, aku juga tidak tahu.
“Mak, anak ini cantik sekali, aku harap Mamak mau mengangkatnya jadi adikku!” ujarku. Sejanak Mamak masih terdiam.
“Kalau ada yang cari gimana?” tanya Mamak lagi.
“Kalau dicari kenapa dibuang...!” ujarku singkat. Mamak mengangguk. Kemudian ikut membuka bungkusan kain sarung yang membalut badan si bayi, dia terbangun tapi tidak menangis. Tangannya yang mungil, dan kakinya yang kecil menyimpan sebuah misteri yang mungkin akan sulit dipecahkan. Siapa orang tua yang telah tega membuang bayi secantik ini? Sungguh keterlaluan.
Mamak mengambil sisa-sisa baju dan popok bayi milik adikku dulu yang masih disimpan Mamak di lemari.
“Ya ampun Le, kasihan sekali anak ini!” ujar Mamak sambil mengusap wajah si bayi, kemudian mencium keningnya. Tiba-tiba wajah Mamak berekspresi aneh, sepertinya Mamak tahu bayi itu balum mandi.
“Belum kamu mandikan ya?” tanya Mamak.
“Mau dimandikan dimana Mak, orang enggak ada sabun bayi sama air hangat. Kasihan kalau dimandikan pakai air dingin!” ujarku.
“Pantesan masih bau amis!” ujar Mamak kemudian beranjak ke dapur. Mamak segera menghangatkan air untuk memandikan adik bayi itu.
“Kamu beli sabun bayi dulu sana!” perintah Mamak padaku. Aku segera ke warung. Tapi langkahku aku hentikan sejenak di luar pintu, dari balik daun pintu aku lihat Mamak menimang bayi itu dengan penuh cinta. Sudah lama Mamak ingin punya anak perempuan. Mungkin bayi itu pelipur lara yang telah lama Mamak damba. Wajah Mamak begitu bahagia. Seperti baru saja mendapatkan harta yang tak terkira jumlahnya. Aku kembali tersenyum.
Setelah memandikan, Mamak kemudian memakaikan popok dan baju bayi, setelah itu di-gedong (istilah orang jawa, dibungkus dengan jarik atau kain batik yang lebar). Lalu Mamak menggendong bayi itu. “Le, anak ini biarlah Mamak yang mengurusnya. Kamu gak usah risau. Kamu fokus saja dengan sekolahmu. Mamak juga senang dengan hadirnya anak itu, anggap saja dia adikmu!” kata Mamak. Aku mengangguk.
“Bapak kemana Mak?” tanyaku, Mamak masih menggendong adik bayi itu. Mungkin saking senangnya sampai aku tak dipedulikannya.
“Biasa Ris, bapakmu ke ladang, kalau belum maghrib juga belum pulang!” ujar Mamak sedikit jengkel. Bapak kadang terlalu ngoyo bekerja, bahkan pulang dari ladang seringnya hampir magrib, sholat asar pun selalu telat, bahkan hampir dijamak dengan sholat maghrib. Aku harus menasehati bapak!
Adik kecilku Farid datang. Wajahnya lebam penuh pasir, mungkin habis main bola. Melihat Mamak menggendong bayi, adikku bertanya, “Adek bayinya siapa Mak?” tanya adikku dengan wajah penasarannya yang polos.
Aku memangku Farid, kemudian aku elus kepalanya, “Itu adeknya Dek Farid. Nanti Dek Farid enggak sendirian lagi. Sekarang Dek farid punya dedek bayi!” kataku, dia tersenyum kegirangan. Kemudian berlari keluar dan memberitahu kawan-kawannya kalau dia punya adek bayi. Semua orang riuh dengan berita itu dan datang berbondong-bondong mengerubungi rumahku.
Mereka bertanya-taya siapa bayi yang aku bawa itu? Aku hanya menjelaskan kalau itu bayi temuan, dan aku membawanya pulang untuk dirawat Mamakku dan sekarang dia telah menjadi bagian dari keluargaku!
 “Le, dikasih nama siapa anak ini?” tanya Mamak. Aku tersenyum, aku telah menyiapkan nama untuknya. Nama yang sangat cantik, secantik pelangi di lazuardi senja.
“Namanya Fadilla Salsabilla Al-husna, Mak!” jawabku. Mamak tersenyum sumringah.
“Cantik sekali namanya. Mamak panggil dia Dilla!” ujar Mamak. Aku tersenyum senang.
Begitulah awal mula ceritanya. Sekarang Dilla telah berumur tiga tahun setengah sebentar lagi empat tahun. Aku pun telah lulus dari pesantren. Kini aku pulang kembali ke kampung halamanku untuk merajut mimpi dan mendandani umat. Ilmuku harus bermanfaat, dan pengetahuanku harus berguna untuk umat.

Komentar

  1. Kosah nyata..kah???,tolong di lanjutkan biar bisa jadi inspirasi bagi siapapun ug telah membacanya

    BalasHapus

Posting Komentar